Tampilkan postingan dengan label ibrah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ibrah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 22 Februari 2015

BANTU DIA MENJAGA HATINYA



dakwatuna.com – Ahad yang cerah saat aku mendengarkan ceritanya. Di ujung sana dia menangis, terluka karena binaannya terlibat kasus merah jambu. Tak tanggung-tanggung, kasusnya dengan ikhwan yang tampak keren, seorang qiyadah di sebuah bidang amanah. Ah, kasus lama. Aku sungguh bisa merasakan perihnya. Aku bahkan masih ingat bagaimana rasanya. Ada marah, ada kecewa, ada benci, bahkan ada keinginan untuk berhenti menjadi pembinanya. Astaghfirullah…
Zaman memang sudah berubah. Dulu ikhwan-ikhwan di sekolahku sungguh menjaga. Ghadhul bashar, jaim –jaga iman, tegas, bertanggung jawab. Kurasa mereka (sesama ikhwan) tercukupi kebutuhan ukhuwahnya sehingga tak merasa perlu untuk tebar pesona, bercanda-canda, apalagi curcol sama akhwat. Tapi kini kita dapati satu dua dari ikhwan-ikhwan keren itu, yang tampak kuat dalam amanah, yang tampak menjaga ibadah, yang memperjuangkan kebenaran, harus kalah pada ujian ketertarikan. Menyedihkan…
Dan pada saat itu selalu saja kita mencari siapa yang patut dipersalahkan. Dan seringkali kita menyalahkan IKHWAN. Ah, mungkin karena kita perempuan. Dengan dalih mereka yang menyatakan perasaannya, bukankah dalam hal cinta perempuan hanya menunggu, jadi mereka yang salah. Atau dengan dalih mereka adalah ikhwan keren, dengan amanah segitu harusnya kafaahnya mumpuni dan mestinya sudah mengerti. Atau dengan makian, ikhwan genit sih, godain akhwat pemula gimana ga tertarik sama ketua. Yaa Allah…
Wahai muslimah, mungkin memang benar mereka tebar pesona, mereka memang yang memulai, mereka memang yang seharusnya memperlakukan kita dengan mulia bukan justru menggoda. Tapi mari sejenak kita lihat ke dalam diri kita. Lebih cermat. Kita mungkin tidak cantik, tapi mengertilah setiap kita punya daya tarik. Maka berhati-hatilah. Kenapa? Karena dalam hal ini kita-lah kuncinya. Dan kita-lah yang sebenarnya perlu dipersalahkan.
Pagi ini aku berhenti di QS An-Nur: 2. Beberapa hari yang lalu aku bertemu QS Al-Maidah: 37. Dan ini menarik. Keduanya memuat syariat tentang sanksi. Yang satu sanksi untuk pencuri, yang satu sanksi untuk pezina. Kita teliti di sana, pada ayat tentang hukuman bagi pencuri Allah sebutkan subjek pencuri laki-laki terlebih dahulu baru pencuri perempuan. Tapi di ayat tentang hukuman bagi pezina Allah sebutkan subjek pezina perempuan terlebih dahulu baru pezina laki-laki. Dalam kitab Tafsir Ahkam, Ash Shabuni menjelaskan ibrah dari hal tersebut adalah pada dasarnya pencurian memang lebih berpotensi dilakukan oleh laki-laki. Allah tau itu, karenanya Allah sebutkan terlebih dulu. Tapi dalam hal zina, ternyata kita, perempuan, adalah yang menjadi kunci. Astaghfirullah…
Ukhti, ternyata kita-lah yang menjadi penentu. Ibarat pintu, kita yang memegang kuncinya. Maka jangan beri mereka celah. Bantu mereka menjaga hati. Aku tahu itu tidak mudah. Perempuan itu mudah jatuh cinta. Tapi seberapapun sulitnya, berusahalah.
Aku sangat ingat nasihat seseorang yang dalam hidup aku memanggilnya papah. Sebelum aku berangkat merantau untuk kuliah, beliau berpesan “anak perempuan itu penentu bagi ayahnya. Jika anak perempuan terjaga kehormatannya hingga dia menikah, maka surga untuk ayah tersebut. Itu sabda Rasul, nduk. Jadilah tiket surga untuk papah. Jaga diri baik-baik, kalau memang Allah sudah memberi jodoh, semester berapapun pasti papah nikahkan. Jangan risau soal kuliah” ah, papah…
Aku juga ingat nasihat salah seorang murabbiyah yang kucintai karena Allah. “Dakwah ini, ukhti, tidak hanya butuh strategi. Tapi juga kedekatan jundinya dengan Allah. Dan kita tak bisa berdekatan dengan Allah bersama kemaksiatan yang dibenci-Nya. Mungkin strategi kita bagus, tapi kemaksiatan kita menghilangkan keberkahannya. Bukankah itu menyedihkan?” ah, mbakku sayang…
Muslimah, tolong bantu mereka menjaga hati. Kalaupun kita tak peduli pada diri kita sendiri, setidaknya lakukan untuk ayah kita. Jangan sampai kita membebaninya di akhirat sana. Sedangkan di dunia kita sudah begitu merepotkannya. Atau lakukan untuk dakwah yang kita cintai. Allah telah begitu baik mempertemukan kita dengan jalan ini. Yang di sini kita bisa mengenal-Nya lebih dekat. Pada siapa lagi kita percayakan dakwah ini jika bukan pada saudara-saudara kita, para ikhwan, yang akan menjadi qiyadah dan mengemban dakwah bersama kita? Lalu apa yang bisa kita harapkan dari mereka jika hal ini tidak segera kita hentikan?
Semoga Allah menjaga kita dan memampukan kita untuk menjaga kehormatan kita. Semoga Allah menjaga saudara-saudara kita dan menguatkannya untuk semakin kokoh di jalan dakwah. Semoga Allah berikan rahmat dan berkah-Nya kepada jalan dakwah ini.
Ya Allah, jadikan aku mencintai mereka dengan benar…
Griya Qur’an, di suatu pagi

Jumat, 10 Oktober 2014

(( Mengapa Aku Memilih Wahdah ))




Perseteruan di kubu ahlu sunnah belum juga surut. Sesama mereka saling mengklaim ahlu sunnah, lalu memvonis yang lain dengan kesesatan dan ahlul bid’ah atau gelar-gelar keji lainnya. Parahnya, perseteruan ini terjadi (sebagaimana saya melihatnya) sebagian besar disebabkan karena pengambilan berita yang simpang siur lalu tidak mau lagi mengadakan konfirmasi dengan berita yang di dengarkannya itu. Dengan dalih bahwa yang menyampaikannya adalah seorang yang tsiqah. Lantas dengan itu, seenaknya saja berbicara, menyesatkan sana-sini, mentabdi’ hingga para ulama dan du’at pun menjadi korban mereka. Allahul Musta’an
Padahal, jika kita melihat kaidah para salaf dalam mengambil berita, tidak segegabah mereka-mereka yang ngakunya sebagai ahlu sunnah itu, lantas kemudian menyesatkan lainnya. inilah ajaran syaithan yang mereka praktekkan, yaitu al isti’jal (ketergesah-gesahan). Tergesah-gesah dalam memvonis. Sungguh menyedihkan, hasil-hasil binaan mereka yang baru satu atau dua tahun bahkan baru beberapa bulan belajar, sudah berani memvonis ulama dan da’i dengan kesesatan keluar dari manhaj salaf. Dengan dalil, ustadznya bilang gini dan gitu, karena ada kesalahan pada mereka, katanya.
Manusia mana yang tidak akan berbuat salah? Mungkin gurunya, iyadzan billlah. Kalau ulama saja bisa salah bagaimana dengan gurunya? Maka akan lebih bisa salah juga.
Oleh karena itu begitu indah apa yang diajarkan para salaf dalam mengambil berita. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikh DR. Muhammad Ibnu Abdirrazzaq ad Duwaisy hafizhahullah dalam mudzakirah ushul fiqh syarah raudhatun nazhir, beliau meneragkan tatkala terjadi berita yang di bawa oleh Abdullah Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menikahi Maimunah radhiyallahu ‘anha dalam keadaan ihram, dimana kondisi ini di haramkan menikah. Akan tetapi ada dalil yang menunjukkan kesalahan perkataan Abdullah Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu tersebut yang langusung ditanggapi oleh Maimunah sendiri dan sahabat yang hadir dalam prosesi akad nikahnya.
Maka dengan ini, ada cara menanggapi berita yang beredar. Pertama lebih mengutamakan perkataan pemilik kisah daripada orang lain yang jauh dari kisah walaupun dia seorang alim, karena pemilik kisah lebih tahu apa yang terjadi pada dirinya daripada orang lain itu. Kedua, lebih mengutamakan orang yang dekat/ hadir bersama pemilik kisah dari yang jauh dari kisah. Karena orang yang bersamanya lebih tahu apa yang terjadi. (untuk lebih jelasnya lihat dalam kitab Mudzaakirah fi ushul Fiqh halaman 359, versi PDF)
Akan tetapi, toh dengan kejdian ini Abdullah Ibnu Abbas tidak dikatakan sebagai seorang pendusta. Bahkan bagaimana indahnya para ulama dalam menyikapi satu berita. Dari situ kita seharusnya belajar dalam menyikapi saudara kita sesama muslim.
Adapun mereka yang hari ini ngaku ahlu sunnah, masya Allah, perkataannya sudah seperti ulama kelas atas. Paling parahnya lagi murid-muridnya, yang sama sekali tidak paham ilmu alat. Beginilah hasilnya kalau baru belajar langsung diajarkan tahdzir sana-sini.
Yaa sudahllah...
Lalu kenapa saya memilih wahdah?
Jujur, sampai hari ini saya melihat mereka (asatidz wahdah) selalu memposisikan muslim sebagai muslim, sebagai sudaranya yang tidak boleh di sakiti dan patut di jaga kehormatannya. Namun jika berbeda dalam sesuatu, mereka tetap menyalahkannya dan menashatinya tapi tidak mau ikut dalam kesalahannya tapi tidak untuk memusuhinya. Tidak ingin mencari musuh.
Jujur, sudah berkali-kali saya mendengarkan mereka di sebut sebagai anak ingusan oleh ustadz-ustadz yang nagku salafi itu, tapi masya Allah, balasan guru saya ketika menyebut namanya, justru dengan gelar ustadz di akhiri lagi dengan doa “hafizahahullah” (semoga Allah menjagannya).
Mereka menuduh asatidz wahdah gemar mengkritik pemerintah, tapi disisi lain mereka juga melihat bagaimana hubungan baik pemerintah dengan mereka yang sering mengadakan kerja sama. Olehnya saya biasa heran dengan saudara-saudara yang selalu mentahdzir itu, di suatu waktu dia mengatakan mereka dekat dengan pemerintah dan di waktu lain gemar mengkritik pemerintah. Sungguh tuduhan yang di dasari hawa saja. Allahul musta’an
Begitu juga ketika tuduhan bahwa asatidz wahdah mengajarkan empat macam tauhid, salah satunya tauhid hakimiyyah/ tauhid mulkiyyah, atau tuduhan lannya yang rata-ratanya hanyalah kedustaan. Tapi entahlah... begitulah mereka yang selalu teriak-teriak hizbi tapi tidak sadar kalau mereka jatuh pada kehizbian tersebut.
Terakhir, saya ingin berpesan kepada para penuntut ilmu agar tidak gegabah dalam menyebarkan berita. Sungguh indah perkataan ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, “jika seandainya orang tidak berilmu itu diam, niscaya tidak akan terjadi fitnah dalam agama.”
Jika kalian mendengarkan berita maka konfirmasi dahulu kebenarannya, langusung pada korban atau pemilik kisah, jangan pada orang lain. ingat kaidah yang di tulis oleh syaikh Khalid Ibnu Ahmad az Zahrani hafizhahullah dalam bukunya Da’watu Ahlil Bida’ beliau mengatakan, tidak boleh menghajr seseorang samapai ia menanyakan langsung pada orangnya tentang masalah yang di isukan itu. Kalau Cuma menghajar tidak boleh, maka bagaimana dengan menyesatkan dan mengelurakan dari manhaj ahlu sunnah? Hadza asyaddun wa akhtor... (lebih parah dan lebih berbahaya)
Itulah kenapa saya lebih memilih belajar di wahdah tanpa mengatakan ini adalah paling benar, karena mereka tidak pernah mengajarkan untuk fanatik dengan yayasan dan ormas mereka. walaupun di tuduh dengan berbagai dusta yang banyak. Guru-guruku tidak pernah mentahdzir ulama yang mejadi guru mereka justru memujinya dan menjadikannya juga sebagia ulama rujukan. Mereka tidak pernah melarang untuk belajar pada siapapun selama diatas manhaj salaf.
Mereka diam bukan berarti mereka tidak ingin bicara, saya pun sudah membaca alur peristiwa perseteruan ini yang jika di ikutkan untuk saling mentahdzir maka tidak akan ada habisnya. Ash shumtu (diam) itu yang terbaik dan tetap berdakwah. Antum ‘alal Haq (kalian berada diatas kebenaran) itulah perkataan syaikh Khalid as Sabat hafidzahullah.
Itu saja....
-----------------------------
Abu ‘Ukasyah Wahyu al Munawiy