Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 22 Februari 2015

Ketika Cinta Mengetuk Hati Sang Aktivis Dakwah

Aktivis dakwah kampus yang sering disebut ADK bukanlah barisan malaikat yang tanpa cela. Bagaimanapun juga, mereka adalah manusia yang bisa melakukan kesalahan dalam tatanan kehidupannya. Disinilah uniknya, fitrah manusia yang mempunyai rasa dan akal untuk belajar dari tiap kesalahannya. Sering kali ADK tergelincir dan keluar dari barisan dakwah karena tidak memiliki iman yang kuat.
Banyak hal yang menggoyahkan ADK. Menurut penglihatan saya para ADK sering kelimpungan kalau sudah terkena virus merah jambu. Virus ini bekerja secara perlahan tapi pasti. Kadang para ADK tidak menyadarinya bahwa dalam hatinya sudah terjangkit virus merah jambu (VMJ). Biasanya bila sudah terjangkit virus ini, hati hanya condong ke satu arah, mata hanya memandang ke satu wajah, dan rindu itu tertuju hanya untuk satu orang idola. Dia yang tanpa cela, dia yang selalu sempurna, dan dia yang selalu dipuja. Masalahnya yang disebut dia bukanlah Sang Pemilik Hati. Namun hanya seorang yang mungkin bisa mengacaukan hati.
VMJ ada karena cinta ada. Tiada yang dapat mengingkari perasaan ini karena rasa ini adalah fitrah kita sebagai manusia ciptaan-Nya. Tetapi, ada yang perlu dicatat! Pengemasan cinta itu. Karena cinta tidak bisa dibelenggu makanya harus dijaga dan dirawat agar tidak keluar dari jalur yang diridhoiNya.
Setiap aktivis dakwah mempunyai pertahanan diri yang berbeda-beda terhadap VMJ. Ada yang sanggup bertahan dalam barisan dakwahnya dan juga ada yang kalah, terserak dalam rantai permainan hati yang dia buat.
Saya akan tuliskan beberapa kisah aktivis dakwah dalam realita kehidupan.
1. Aktivis Butuh Penjagaan Iman
Seorang aktivis dakwah yang berada dalam lingkungan heterogen kampus tantangannya mungkin lebih berat dan penjagaannya harus lebih kuat. Interaksi dengan lawan jenis bisa dibilang sering. Dan di lingkungan seperti inilah kadang ujian menghampiri. Dan hal ini dialami oleh seorang akhwat. Sebut saja namanya fulana
  fulana adalah seorang akhwat yang aktif di organisasi kampus Universitas di Bandung. Nuansa kekeluargaan yang terbangun dalam organisasi itu membuatnya nyaman dan betah. Dia mengakui pengurus organisasi ini seperti keluarga keduanya setelah keluarga aslinya yang jauh dari ibukota Bandung.
Rutinitas Arsya berkumpul di organisasi ini adalah pemicu awal getar-getar dalam hatinya. Awalnya dia hanya iseng menghabiskan waktu bersama teman-teman organisasinya sehabis kuliah atau jeda kuliah satu dengan lainnya. Keisengannya tumbuh menjadi suatu kebiasaan.
Seiring berjalannya waktu ada seorang ikhwan berhasil menarik perhatian Arsya. Kekaguman,dan kerinduan tumbuh dengan apik di dalam hatinya yang lembut. Dia mengira perasaan ini cuma hal biasa. Fitrah bila mengidolakan seseorang karena kebaikan dan pribadi yang sempurna.
Lambat laun perasaan ini semakin menjadi didukung dengan aktivitas di dalam organisasi yang semakin padat dengan banyak melakukan kegiatan dan rapat-rapat. Semua ini membuatnya sering berinteraksi dengan pengurus organisasi tersebut. Dan tentu saja Arsya hampir tiap hari bertemu dengan ikhwan yang diidolakan dan semakin membuat otaknya dipenuhi dengan sosok ikhwan tersebut. Astaghfirullah…
Arsya menyadari ada sesuatu yang terjadi pada dirinya. Keganjilan yang dia rasakan. Wajah seorang yang selalu terbayang. Kerinduan yang tanpa alasan. Semua itu meresahkannya ditambah kegiatan liqoat yang sering dia lewatkan. Ruhiyahnya lapar, tidak pernah terisi dalam hitungan bulan. Rutinitasnya untuk dunia organisasinya dan aktivitas kuliahnya yang padat membuatnya lupa akan kebutuhan ruhaninya. Hingga suatu hari sang murabbi mengingatkan dan menasihatinya.
Arsya mulai menata hatinya dari awal atas bimbingan murabbinya. Ya akhirnya! Dia menemukan cahaya dakwah dalam jiwanya. Liqoat yang tadinya tidak terlalu dia pentingkan ternyata dapat dijadikan alat untuk membangun benteng keimanan dari godaan-godaan hati yang dibayangi nafsu. Dia kini meluangkan waktu untuk rutinitas lama yang pernah dia tinggalkan sebelumnya untuk mengisi jiwanya dengan sentuhan-sentuhan illahi.
Secara perlahan Arsya merubah pandangannya tentang sosok ikhwan yang dia idolakan dan nyaris terlihat sempurna di matanya. Ikhwan tersebut adalah manusia biasa yang mungkin dimanfaatkan Alloh untuk mengujinya. Waktu yang membuktikan segalanya.
Kewajaran tumbuhnya cinta tidak bisa diwajarkan bila tumbuh di lahan yang penuh dosa. Arsya meyakini itu.
Doa seorang Arsya,” bersihkan hati ini dari titik-titik noda ya Allah. Dan gantilah hatiku dengan hati yang lain bila tak bisa dibersihkan lagi.”
Arsya dalam kisah ini mengajari kita bahwa keheterogenan pergaulan membutuhkan keimanan yang kuat, hati yang bersih, dan nutrisi jiwa yang tidak boleh terputus. Menundukkan pandangan itu penting, agar kekaguman dan penyakit hati lainnya tidak akan menyerang kita. Terutama virus merah jambu. Jadi, waspadalah dengan mata dan hatimu saudaraku.
2. Perjalanan Cinta Sang Aktivis
Sapalah ikhwan ini dengan Dika. Dia aktif dalam keorganisasian di dalam kampus maupun di luar kampus. Berinteraksi dengan lawan jenis sudah menjadi hal biasa baginya. Parasnya yang cukup rupawan dan keaktifannya dalam berdakwah mendapat banyak perhatian dari ihkwan lainnya dan akhwat pun banyak yang mengaguminya. Mungkin tidak ada yang menyangka masa lalunya yang penuh cerita yang tidak terbayangkan telah dialami oleh seorang aktivis seperti Dika.
Ketika SMA Dika adalah seorang aktivis rohis di sekolahnya. Selain itu dia juga mengikuti salah satu organisasi islam bagi pelajar Indonesia. Meskipun saat itu dia seorang aktivis dakwah tetapi cara dia memandang tentang cinta tidak sesuai dengan koridor islam. Dia masih menghalalkan pacaran. Dalam pikirannya tertanam adanya pacaran islami. Mungkin itu terjadi karena buku-buku yang bergaya islami tetapi menyesatkan. Aku tidak tahu persis dengan cara berpikirnya saat itu.
Dika memiliki teman dekat bernama Uni. Adik perempuannya teman sekolah Uni. Jadi, tanpa direncanakan mereka saling kenal dengan perantara adiknya. Uni banyak tahu tentang Dika dari adiknya. Hubungan pertemanan Uni dengan Dika cukup baik. Saat itu tidak ada rahasia antara mereka. Dika selalu bercerita tentang aktivitasnya dalam berorganisasi dan teman-teman perempuan yang mengaguminya. Dika pernah bilang ke Uni merasa risih bila ada teman perempuannya mengharapkan lebih darinya. Uni hanya menanggapinya dengan senyuman dan candaan. Saat itu Uni tidak mengira dika benar-benar merasa resah atas keberadaan mereka─ teman-teman perempuannya.
Sesuatu yang mengagetkan terjadi, setelah beberapa bulan Dika lulus SMA. Dika mengumumkan hubungannya dengan seorang perempuan. Mereka berpacaran. Hubungan mereka cukup lama sampai hitungan bulan. Saat itu Dika masih kontak melalui sms saling tanya kabar dengan Uni. Entah kenapa Dika tidak bisa melepas sahabatnya meskipun telah memiliki kekasih.
Ketika Uni memasuki bangku kuliah. Saat itu terdengar kabar Dika putus dengan pacarnya. Tahun itu juga Dika baru saja mendaftar di sebuah perguruan tinggi dan diterima. Sejak saat itu Uni dan Dika hampir tidak pernah saling komunikasi.
Sebenarnya Dika dari awal menyukai Uni menurut pengakuan Dika. Namun, Uni hanya menganggapnya teman biasa.
Dika tahu Uni bukanlah seorang akhwat. Dia tidak berkerudung. Dia juga tidak anti pacaran. Tetapi, dia memang tidak mau pacaran. Dika tidak tahu alasannya apa. Sebagai pelarian dia berpacaran dengan orang lain.
Dan saat Dika mengenal tarbiyah, memahami koridor cinta yang benar, cinta yang diridhoiNya. Dia memutuskan putus dengan pacarnya. Dan saat itu dia mendengar dari teman-teman kuliah Uni, bahwa sahabatnya itu telah berubah menjadi seorang aktivis dakwah di kampusnya. Uni menjadi Seorang akhwat. Dika bersyukur bahwa Uni telah menutup auratnya.
Dika yang seorang aktivis dakwah kampus malu bila mengenang masa lalunya. Tetapi, dia bersyukur karena Allah masih memberinya kesempatan untuk kembali ke jalanNya.
Sekarang yang dikenal orang dari Dika adalah seorang ikhwan yang tanpa cela. Terlepas dari godaan dan sempurna.
Bila seorang dengan keyakinan bertaubat dan kembali ke jalan Allah dengan hati yang suci insyaallah Yang Maha Tahu akan menyembunyikan yang memang harus disembunyikan.
Sebatas obrolan dengan kawan
Pernah kulontarkan sebuah pertanyaan kepada seorang teman,
“Terlihat jelas cerita cinta sedang dipaparkan. Namun, kenapa dia hanya sebatas bayang tanpa nama. Begitu sucikah namanya tak bisa diikrarkan seperti setetes embun pagi yang bening tanpa noda?”

Dan dia menjawab,
“sangat suci untuk tidak menebar sebuah fitnah, ya beginilah aku memandang seorang wanita. Begitu suci maka harus diperlakukan untuk menjaga kesuciannya. Dan inilah cinta, perlu pengorbanan untuk menjaga agar tetap suci seperti lahirnya”

Bingkai sajak memiliki makna tersirat. Tersembunyi sebuah nama di balik syair-syair tanpa ada seorangpun yang mengetahui. Adakah sebuah rahasia di balik dialog di atas. Entahlah…aku pun tidak tahu. Hanya Tuhan Yang Maha Tahu. Cinta dalam kebisuan, syair-syair, dan ketakwan pada-Nya.

Jumat, 10 Oktober 2014

SAYA MAU KELUAR DARI TARBIYAH SAJA !!!



Ustadz, dulu ana merasa semangat dalam dakwah. Tapi belakangan rasanya semakin hambar. Ukhuwah makin kering. Bahkan ana melihat ternyata ikhwah banyak pula yang aneh-aneh." Begitu keluh kesah seorang mad'u kepada murabbinya di suatu malam.
Sang murabbi hanya terdiam, mencoba terus menggali semua kecamuk dalam diri mad'unya. "Lalu, apa yang ingin antum lakukan setelah merasakan semua itu?" sahut sang murabbi setelah sesaat termenung.
“Ana ingin berhenti saja, keluar dari tarbiyah ini. Ana kecewa dengan perilaku beberapa ikhwah yang justru tidak islami. Juga dengan organisasi dakwah yang ana geluti, kaku dan sering mematikan potensi anggota-anggotanya. Bila begini terus, ana mendingan sendiri saja..." jawab mad'u itu.
Sang murabbi termenung kembali. Tidak tampak raut terkejut dari roman wajahnya. Sorot matanya tetap terlihat tenang, seakan jawaban itu memang sudah diketahuinya sejak awal.
"Akhi, bila suatu kali antum naik sebuah kapal mengarungi lautan luas. Kapal itu ternyata sudah amat bobrok. Layarnya banyak berlubang, kayunya banyak yang keropos bahkan kabinnya bau kotoran manusia. Lalu, apa yang akan antum lakukan untuk tetap sampai pada tujuan?" tanya sang murabbi dengan kiasan bermakna dalam.
Sang mad'u terdiam berpikir. Tak kuasa hatinya mendapat umpan balik sedemikian tajam melalui kiasan yang amat tepat.
"Apakah antum memilih untuk terjun ke laut dan berenang sampai tujuan?" sang murabbi mencoba memberi opsi.
"Bila antum terjun ke laut, sesaat antum akan merasa senang. Bebas dari bau kotoran manusia, merasakan kesegaran air laut, atau bebas bermain dengan ikan lumba-lumba. Tapi itu hanya sesaat.apakah antum pandai berenang? Berapa kekuatan antum untuk berenang hingga tujuan? Bagaimana bila ikan hiu datang? Darimana antum mendapat makan dan minum? Bila malam datang, bagaimana antum mengatasi hawa dingin?kalau pun antum mmpu berenang dan sampai ke daratan,apakah antum yakin tiba di pulau yg berpenghuni?atau pulau itu hanya lah pulau mati yg didiami oleh binatang buas?kalau pun pulau itu berpenghuni,apakah kamu dpt mnjamin manusia yg hidup d dlm nya adalah manusia yg ramah,sopan,santun,alim,seideal jama'ah impian mu slm ini?" serentetan pertanyaan dihamparkan di hadapan sang mad'u.
Tak ayal, sang mad'u menangis tersedu. Tak kuasa rasa hatinya menahan kegundahan sedemikian. Kekecewaannya kadung memuncak, namun sang murabbi yang dihormatinya justru tidak memberi jalan keluar yang sesuai dengan keinginannya.
“Akhi, apakah antum masih merasa bahwa jalan dakwah adalah jalan yang paling utama menuju ridho Allah?" Pertanyaan menohok ini menghujam jiwa sang mad'u. Ia hanya mengangguk.
"Bagaimana bila temyata mobil yang antum kendarai dalam menempuh jalan itu temyata mogok? Antum akan berjalan kaki meninggalkan mobil itu tergeletak di jalan, atau mencoba memperbaikinya?" tanya sang murabbi lagi.
Sang mad'u tetap terdiam dalam sesenggukan tangis perlahannya.
Tiba-tiba ia mengangkat tangannya, "Cukup ustadz, cukup. Ana sadar. Maafkan ana. Ana akan tetap istiqamah. Ana berdakwah bukan untuk mendapat medali kehormatan. Atau agar setiap kata-kata ana diperhatikan..."
"Biarlah yang lain dengan urusan pribadi masing-masing. Ana akan tetap berjalan dalam dakwah ini. Dan hanya Allah saja yang akan membahagiakan ana kelak dengan janji-janji-Nya. Biarlah segala kepedihan yang ana rasakan jadi pelebur dosa-dosa ana", sang mad'u berazzam di hadapan murabbi yang semakin dihormatinya.
Sang murabbi tersenyum. "Akhi, jama'ah ini adalah jama'ah manusia. Mereka adalah kumpulan insan yang punya banyak kelemahan. Tapi di balik kelemahan itu, masih amat banyak kebaikan yang mereka miliki. Mereka adalah pribadi-pribadi yang menyambut seruan Allah untuk berdakwah. Dengan begitu, mereka sedang berproses menjadi manusia terbaik pilihan Allah."
"Bila ada satu dua kelemahan dan kesalahan mereka, janganlah hal itu mendominasi perasaan antum. Sebagaimana Allah ta'ala menghapus dosa manusia dengan amal baik mereka, hapuslah kesalahan mereka di mata antum dengan kebaikan-kebaikan mereka terhadap dakwah selama ini. Karena di mata Allah, belum tentu antum lebih baik dari mereka."
"Futur, mundur, kecewa atau bahkan berpaling menjadi lawan bukanlah jalan yang masuk akal. Apabila setiap ketidak-sepakatan selalu disikapi dengan jalan itu, maka kapankah dakwah ini dapat berjalan dengan baik?" sambungnya panjang lebar.
"Kita bukan sekedar pengamat yang hanya bisa berkomentar. Atau hanya pandai menuding-nuding sebuah kesalahan. Kalau hanya itu, orang kafirpun bisa melakukannya. Tapi kita adalah da'i. Kita adalah khalifah. Kitalah yang diserahi amanat oleh Allah untuk membenahi masalah-masalah di muka bumi. Bukan hanya mengeksposnya, yang bisa jadi justru semakin memperuncing masalah."
"Jangan sampai, kita seperti menyiram bensin ke sebuah bara api. Bara yang tadinya kecil tak bernilai, bisa menjelma menjadi nyala api yang membakar apa saja. Termasuk kita sendiri!"
Sang mad'u termenung merenungi setiap kalimat murabbinya. Azzamnya memang kembali menguat. Namun ada satu hal tetap bergelayut dihatinya.
"Tapi bagaimana ana bisa memperbaiki organisasi dakwah dengan kapasitas ana yang lemah ini?" sebuah pertanyaan konstruktif akhirnya muncul juga.
"Siapa bilang kapasitas antum lemah? Apakah Allah mewahyukan begitu kepada antum? Semua manusia punya kapasitas yang berbeda. Namun tidak ada yang bisa menilai, bahwa yang satu lebih baik dari yang lain!" sahut sang murabbi.
"Allah memasukkan kita ke dalam surga bukan karena kita mampu menyempurnakan jama'ah,menciptakn organisasi tanpa kelemahan.namun Allah melihat apa yg tlh kita kerjakan untuk agama nya,sekecil apapun peran tersebut.
Bekerjalah dengan ikhlas. Berilah taushiah dalam kebenaran, kesabaran dan kasih sayang kepada semua ikhwah yang terlibat dalam organisasi itu. Karena peringatan selalu berguna bagi orang beriman. Bila ada sebuah isyu atau gosip, tutuplah telinga antum dan bertaubatlah. Singkirkan segala ghil (dengki, benci, iri hati) antum terhadap saudara antum sendiri. Dengan itulah, Bilal yang mantan budak hina menemui kemuliaannya."
Suasana dialog itu mulai mencair. Semakin lama, pembicaraan melebar dengan akrabnya. Tak terasa, kokok ayam jantan memecah suasana. Sang mad'u bergegas mengambil wudhu untuk qiyamullail malam itu. Sang murabbi sibuk membangunkan beberapa mad'unya yang lain dari asyik tidurnya.
Malam itu, sang mad'u menyadari kekhilafannya. Ia bertekad untuk tetap berputar bersama jama'ah dalam mengarungi jalan dakwah. Pencerahan diperolehnya. Demikian juga yang diharapkan dari Antum/antunna yang membaca tulisan ini.. Insya Allah kita tetap istiqamah di jalan dakwah ini.. Dalam samudera tarbiyah ini..
Wallahu a'lam.

Kamis, 01 Agustus 2013

Manejmen Qalbu

Tidak MUDAH tersenyum ketika hati menangis dan teriris
Tapi akan terasa INDAH ketika kita menyadari itu bagian dari kasih Ilahi
Agar Allah memindahkan kebaikan-kebaikan orang yang menyakiti kita

Tidak MUDAH bangkit dalam keadaan terpuruk
Tapi akan terasa INDAH ketika kita menyadari...
Bahwa Allah sedang menyapa dengan cinta-Nya Agar kita tumbuh besar dan kuat

Tidak MUDAH memberi ketika diri sendiri dalam kekurangan
Tapi akan terasa INDAH ketika kita bisa membahagiakan orang lain
Bukan membahagiakan diri sendiri

Tidak MUDAH memaafkan ketika kita dibenci dan di hina
Tapi akan terasa INDAH kalau itu bagian dari penyucian diri...
Dan ikhlash hanya mengharap ridlo Ilahi

Tidak MUDAH melupakan kegagalan ketika kita masih berkubang didalamnya
Tapi akan terasa INDAH ketika menyadari itu adalah awal dari kesuksesan kita

Tidak MUDAH melupakan masa lalu yang menyakitkan
Tapi akan terasa INDAH ketika menyadari itulah jalan yang harus ditempuh
Untuk mengawali kebahagiaan yang akan diberikan Allah sebagai penggantinya

Tidak MUDAH menghilangkan duka karena kehilangan
Tapi akan terasa INDAH ketika menyadari...
Bahwa Tuhan telah meminjamkan kepada kita beberapa saat

Tidak MUDAH menghadapi penderitaan dan cobaan yang terus mendera
Tapi akan terasa INDAH ketika menumbuhkan kesabaran dan rasa syukur
Dan menyadari itu bagian dari cara Allah menyayangi hambanya...
Seperti Allah menyayangi para Nabi dan Rasul-Nya.

Minggu, 28 Juli 2013

Bersahabat dengan Alhamdulillah

Salah satu gizi spiritual dalam menghadapi kehidupan adalah bersahabat dengan “alhamdulillah” yang artinya segala puji bagi Allah. Orang-orang yang sering bersahabat dengan “gizi spiritual” ini, insyaAllah hidupnya akan lebih bahagia dibanding yang mereka yang tidak bersahabat.
Alhamdulillah ya Allah, Engkau menitipkan kepadaku seorang atasan pemarah dan sering mengungkit-ngungkit berbagai masalah, sebab banyak orang yang tidak punya atasan, bukan karena dirinya atasan tapi karena dirinya menganggur. Dengan atasan pemarah hambamu berkesempatan untuk mendoakan semoga beliau segera sadar bahwa kemarahan akan menghancurkan siklus kehidupan dirinya sendiri.
Alhamdulillah ya Allah, Engkau menitipkan kepadaku banyak karyawan, yang sebagiannya suka demo minta tuntutan gaji dan kesejahteraan lainnya, sebab banyak orang tidak punya karyawan sebab sudah lima tahun belakangan ini perusahaannya gulung tikar dan bahkan tikarnyapun sampai tidak ada yang digulung. Dengan punya karyawan, semoga hambamu bisa menjadi salah satu jalan rizki bagi mereka dengan seizin Engkau ya Allah.
Alhamdulillah ya Allah, Engkau telah menitipkan orang-orang disekelilingku sebagian ada yang menyakiti, walaupun hamba-Mu ini telah berusaha untuk berbuat baik kepada siapapun sekuat kemampuan. Sebab, banyak orang yang tidak pernah disakiti orang lain karena dalam hidupnya tidak pernah bergaul dengan masyarakat banyak. Semoga dengan disakiti dan hambamu tetap ingin berbuat baik dengan yang menyakiti menyebabkan Engkau akan mengabulkan doa-doa orang yang terdhzolimi ini.
Alhamdulillah ya Allah, Engkau memberi kesempatan kepadaku, kuliah tidak sesuai dengan jurusan pilihan pertama, sebab banyak orang yang tidak pernah menikmati jurusan kuliah karena kekurangan dana untuk memenuhi keinginannya kuliah. Dengan kuliah tidak sesuai jurusan, semoga akan punya lebih dari satu keahlian, keahlian pertama adalah jurusan ketika kuliah dan keahlian lainnya adalah mempelajari sendiri banyak hal yang dulu dicita-citakan.
Banyak hal didunia ini yang bisa kita syukuri dengan mengucapkan “Alhamdulillah”, dan dengan sering mengucapkan alhamdulillah, milyaran peluang prestasi akan mengejar-ngejar kita.
Banyak hal didunia ini yang kita tidak siap menyukuri dengan mengucapkan “Alhamdulillah dan dengan sering merasa berat dan bahkan enggan mengucapkan alhamdulillah, milyaran peluang prestasi akan lari meninggalkan kita.
Berani hadapi tantangan bersahabat dengan alhamdulillah agar hidup dikejar-kejar prestasi??? Bagaimana pendapat sahabat???

Sabtu, 27 Juli 2013

Cinta Seorang Ibu



Di sebuah rumah sakit bersalin, seorang ibu baru saja melahirkan jabang bayinya. "Bisa saya melihat bayi saya?" pinta ibu yang baru melahirkan itu penuh rona kebahagiaan di wajahnya. Namun, ketika gendongan berpindah tangan dan ia membuka selimut yang membungkus wajah bayi lelaki mungil itu, si ibu terlihat menahan napasnya. Dokter yang menungguinya segera berbalik memandang ke arah luar jendela rumah sakit, tak tega melihat perubahan wajah si ibu. Bayi yang digendongnya ternyata dilahirkan tanpa kedua belah telinga! Meski terlihat sedikit kaget, si ibu tetap menimang bayinya dengan penuh kasih sayang.

Waktu membuktikan, bahwa pendengaran bayi yang kini telah tumbuh menjadi seorang anak itu bekerja dengan sempurna. Hanya penampilannya saja yang tampak aneh dan buruk. Suatu hari, anak lelaki itu bergegas pulang ke rumah dan membenamkan wajahnya di pelukan si ibu sambil menangis. Ibu itu pun ikut berurai air mata. Ia tahu hidup anak lelakinya penuh dengan kekecewaan dan tragedi. Sambil terisak, anak itu bercerita, "Seorang anak laki-laki besar mengejekku. Katanya, aku ini makhluk aneh."

Begitulah, meski tumbuh dengan kekurangan, anak lelaki itu kini telah dewasa. Dengan kasih sayang dan dorongan semangat orangtuanya, meski punya kekurangan, ia tumbuh sebagai pemuda tampan yang cerdas. Rupanya, ia pun pandai bergaul sehingga disukai teman-teman sekolahnya. Ia pun mengembangkan bakat di bidang musik dan menulis. Akhirnya, ia tumbuh menjadi remaja pria yang disegani karena kepandaiannya bermusik.

Suatu hari, ayah anak lelaki itu bertemu dengan seorang dokter yang bisa mencangkokkan telinga. "Saya percaya saya bisa memindahkan sepasang telinga untuk putra Bapak. Tetapi harus ada seseorang yang bersedia mendonorkan telinganya," kata dokter. Maka, orangtua anak lelaki itu mulai mencari siapa yang mau mengorbankan telinga dan mendonorkannya kepada anak mereka.

Beberapa bulan sudah berlalu. Dan tibalah saatnya mereka memanggil anak lelaki itu, "Nak, seseorang yang tak ingin dikenal telah bersedia mendonorkan telinganya padamu. Kami harus segera mengirimmu ke rumah sakit untuk dilakukan operasi. Namun, semua ini sangatlah rahasia," kata si ayah.

Operasi berjalan dengan sukses. Ia pun seperti terlahir kembali. Wajahnya yang tampan, ditambah kini ia sudah punya daun telinga, membuat ia semakin terlihat menawan. Bakat musiknya yang hebat itu berubah menjadi kejeniusan. Ia pun menerima banyak penghargaan dari sekolahnya.

Beberapa waktu kemudian, ia pun menikah dan bekerja sebagai seorang diplomat. Ia lantas menemui ayahnya, "Yah, aku harus mengetahui siapa yang telah bersedia mengorbankan ini semua padaku. Ia telah berbuat sesuatu yang besar, namun aku sama sekali belum membalas kebaikannya."

Ayahnya menjawab, "Ayah yakin kau takkan bisa membalas kebaikan hati orang yang telah memberikan telinga itu." Setelah terdiam sesaat ayahnya melanjutkan, "Sesuai dengan perjanjian, belum saatnya bagimu untuk mengetahui semua rahasia ini."

Tahun berganti tahun. Kedua orangtua lelaki itu tetap menyimpan rahasia. Hingga suatu hari, tibalah saat yang menyedihkan bagi keluarga tersebut. Pada hari itu, ayah dan anak lelaki itu berdiri di tepi peti jenazah ibunya yang baru saja meninggal. Dengan perlahan dan lembut, si ayah membelai rambut jenazah ibu yang terbujur kaku. Sang ayah lantas menyibaknya sehingga sesuatu yang mengejutkan si anak lelaki terjadi. Ternyata, si ibu tidak memiliki telinga.

"Ibumu pernah berkata bahwa ia senang sekali bisa memanjangkan rambutnya," bisik si ayah. "Dan tak seorang pun menyadari bahwa ia telah kehilangan sedikit kecantikannya, ‘kan?"

Melihat kenyataan bahwa telinga ibunya yang diberikan pada si anak, meledaklah tangisnya. Ia merasakan bahwa cinta sejati ibunya yang telah membuat ia bisa seperti saat ini.

Pesan Cerita :

Kecantikan yang sejati tidak terletak pada penampilan tubuh, namun ada di dalam hati. Harta karun yang hakiki tidak terletak pada apa yang bisa terlihat, namun justru pada apa yang kadang tidak dapat terlihat. Begitu juga dengan cinta seorang ibu pada anaknya. Di sana selalu ada inti sebuah cinta yang sejati, di mana terdapat keikhlasan dan ketulusan yang tak mengharap balasan apa pun.

Dalam cerita di atas, cinta dan pengorbanan seorang ibu adalah wujud sebuah cinta sejati yang tak bisa dinilai dan tergantikan. Cinta sang ibu telah membawa kebahagiaan bagi sang anak. Inilah makna sesungguhnya dari sebuah cinta yang murni. Karena itu, sebagai seorang anak, jangan pernah melupakan jasa seorang ibu. Sebab, apa pun yang telah kita lakukan, pastilah tak akan sebanding dengan cinta dan ketulusannya membesarkan, mendidik, dan merawat kita hingga menjadi seperti sekarang.

Mari, jadikan ibu kita sebagai suri teladan untuk terus berbagi kebaikan. Jadikan beliau sebagai panutan yang harus selalu diberikan penghormatan. Sebab, dengan memperhatikan dan memberikan kasih sayang kembali kepada para ibu, kita akan menemukan cinta penuh ketulusan dan keikhlasan, yang akan membimbing kita menemukan kebahagiaan sejati dalam kehidupan